Maaf, Situs Ini Dipindah!
Sebenarnya enggak dipindah, sih. Selama ini, situs ini kan beralamat di www.penulislepas.net/jonru. Tapi bisa juga di-redirect dari www.jonru.net.
Nah, saya sudah mengcopy seluruh isi situs ini ke www.jonru.net. Jadi mulai sekarang, alamat blog saya sudah menjadi www.jonru.net, bukan lagi www.penulislepas.net/jonru.
Tapi karena alamat situs ini sudah banyak di-link oleh teman-teman, maka situs ini tidak dinonaktifkan. Tetap akan seperti ini, tapi tak pernah lagi di-update. Adapun update-update terbaru situs saya dapat dipantau di www.jonru.net.
Dan dengan ini, semua fitu komentar - termasuk shoutbox - di situs ini telah saya tutup. Sebagai gantinya, Semua fitur ini dapat Anda nikmati di www.jonru.net.
Terima kasih banyak.
Wassalam
Jonru
Mengelola website/blog: from hobby to making money
Salah satu cita-cita saya sejak kuliah - khususnya setelah aktif di pers mahasiswa - adalah ingin mendirikan penerbitan sendiri. Saya bermimpi punya majalah seperti Tempo atau Gatra , dan saya menjadi pemimpin redaksinya.
Ternyata, mewujudkan impian ini sangat gampang, seandainya saya seorang milyuner! Tapi nyatanya? Hm… tak perlu saya jelaskan lebih detil, kan?
Intinya, saya harus mengubur mimpi tersebut dalam-dalam. Tak ada gunanya dipelihara. Continue Reading »
Warna kini lebih cerah!
Awalnya, saya cuma ingin menerapkan teori SEO. Judul tulisan yang semula dibuat dengan tag < div >, diubah menjadi < h1 >. Akibatnya, tampilan huruf pada judul menjadi sangat besar, dan warnanya biru ngejreng banget. Semula saya senang. Tapi kemudian, saya pikir itu adalah warna yang cukup norak, dan kurang selaras dari segi desain. Maka, saya pun mengutak-atik warna pada CSS. Dan jadilah seperti yang Anda lihat sekarang. Unsur-unsur teks kini didominasi oleh warna hijau “agak” cerah. Juga, saya mengubah jenis huruf (font) sehingga lebih enak dipandang.
Selamat menikmati, semoga betah
Jonru
SPAM membuat saya harus minta maaf
Teman-teman sekalian…
Mungkin Anda sudah mengirim komentar ke website ini, tapi belum muncul. Jangan khawatir. Itu bukan karena saya membenci Anda. Tapi ini gara-gara lemahnya sistem filter SPAM di situs ini. Continue Reading »
Kiat agar Cerita Fiksi Tidak Terkesan Menggurui
Saya sangat setuju, bahwa setiap karya sastra seharusnya mengandung pesan moral yang baik. Atau minimal, ada hikmah positif yang didapatkan pembaca setelah mereka melahap sebuah cerita.
Masalahnya, bagaimana cara menyelipkan hikmah atau pesan moral tersebut secara manis, dan tidak terkesan menggurui? Continue Reading »
Milis Free-English yang Aneh
Terus terang, bahasa Inggris saya masih kacau banget. Padahal English is very important. Isn’t it?
Ketika SMA, saya sempat kursus bahasa Inggris selama 3 tahun, dan sudah cukup lancar berEnglish ria. Tapi karena jarang dipraktekkan, ya gini deh jadinya.
Inilah salah satu alasan kuat saya untuk bergabung dengan Milis Free-English. Lewat milis ini kita bisa berlatih bahasa Inggris, sehingga kemampuan kita pun makin lancar.
Tapi betapa kagetnya saya. Setelah mendaftar, datang sebuah email pemberitahuan: Continue Reading »
Tentang Jilbab dan Cerita Islami
Walau baru bergabung dengan FLP tahun 2004 lalu, sebenarnya saya sudah mengikuti perkembangan sastra Islami “ala FLP” sejak akhir tahun 90-an. Di kampus, ada beberapa teman yang rajin membaca majalah Annida, dan saya sering numpang baca. Ya, majalah Annida memegang peranan yang cukup penting dalam kelahiran dan kebangkitan FLP ketika itu.
Walau suka membaca cerpen-cerpen di Annida, saat itu sebenarnya saya sebel terhadap majalah ini. Motto yang diembannya adalah “seri kisah-kisah Islami”, tapi hampir semua cerpennya bercerita tentang perempuan yang awalnya tidak berjilbab, lalu mendapat hidayah kemudian berjilbab. Atau tentang perempuan yang memutuskan untuk berjilbab, lalu ditentang oleh keluarganya. Ia bahkan diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak, atau tidak diperbolehkan masuk sekolah jika masih nekat mengenakan jilbab.
Saya pikir, apakah Islam itu hanya seputar jilbab? Tentu tidak, bukan? Tapi motto “seri kisah-kisah Islami” seolah-olah membenarkan asumsi bahwa Islam memang hanya seputar jilbab. Saya bahkan pernah kepikiran untuk mengusulkan pada redaktur majalah ini, agar mottonya diubah saja menjadi “seri kisah-kisah jilbab”.




